Pagi ini adalah hari pertama aku merasa bahwa aku telah kehilangan segalanya ,
kehilangan semangat hidup, kehilangan kesempatan menyampaikan sesuatu dan kesempatan meminta sesuatu. Kesempatan itu
hanya sekali dalam seumur hidupku, tidak
akan terulang lagi sekalipun waktu akan diputarbalik seratus kali.
Aku dukuk termenung di depan pintu dengan
tatapan jauh menerawang tetapi tatapan mata yang kosong, tak ada harapan lagi
disana buat ku raih. Padahal pagi itu hari sangatlah cerah. Masih terlalu dini
rasanya saat itu aku untuk memahami. Sungguh trauma yang sangat mendalam,
Ibu…Ibuku telah meninggalkanku untuk selama-lamanya manakala aku belum bisa
melakukan sesuatu bukan yang terbaik di mata Ibu, tetapi sesuatu yang baik di
mata ibu ku. Bahkan semasa hidupnya tak pernah merasakan hal yang baik yang
kulakukan buat Ibu ku.
Semasa hidupnya Ibu ku jarang sekali mengalami
hal kebahagiaan, aku mengetahui semuanya tapi aku belum bisa dan tak pernah
menyadari bahkan semenjak ibu ku sakit hampir 3 tahun lamanya saja aku hampir
tidak menyadarinya. Hingga pada suatu siang itu mata, hati dan pikiranku mulai
terbuka bahkan dari hal yang terkecilpun kesalahan yang aku lakukan aku
mengingatnya. Tapi semua itu sia-sia.
Siang itu aku pergi kesawah sambil membawa
ember yang berisi pupuk. Entah kenapa aku lakukan itu padahal di rumah, aku
tahu keadaan ibuku sedang sakit bahkan aku menyadari mungkin aku besok sudah
tidak bisa melihat ibu ku lagi. Sambil berjalan dipematang sawah aku menaburkan
pupuk itu ke hamparan ladang padi rasanya belum lama aku sampai di sawah,
paling sekitar 10 menit, tapi rasanya sudah lelah sekali. Lalu aku terduduk di
pematang sawah sambil memainkan air yang mengalir diantara pematang. Nampak
dari jauh adikku yang paling sulung berlari-lari kecil sambil
memanggilku….mas….mas…pas dia tepat didepanku malah diam tak mengeluarkan
sepatah katapun lalu adikku terduduk tepat disampingku tapi mulutnya tetap diam
membisu. Lalu aku bertanya “ ono opo le ?. Kemudian adikku menjawab dengan
sangat berusaha santai dan berusaha tenang “ Mamak wis ora ono mas…”. Lalu…aku
bilang ke adikku..” o..yo wis. ra opo-opo. Yo wis kono balio ndisik engko aku
nyusul”…kemudian adikku pulang menelusuri pematang sawah sambil sesekali tangannya
meraih batang padi mencabut dan melemparkannya ketengah sawah berkali-kali. Betapa
galau-nya jika kuperhatikan adikku. Aku berdiri dan terus memperhatikan setiap
langkah kaki adikku sampai mulai tidak kelihatan.
Dengan perasaan campur
aduk tapi aku tetap berusaha tenang..aku menuju ke tepi sungai lalu kubenamkam
kepalaku kedalam sungai, ku lakukan berulang-ulang bahkan mungkin ada seratus
kali, tapi aku tetap tidak bisa menangis bahkan sampai aku melihat ibuku
terbujur kaku pun aku tidak bisa menangis. Bukan karena aku tidak menyayangi
atau bukan juga aku tidak memikirkannya. Mungkin kalau boleh, TUHAN. minta beri
aku waktu satu menit saja buat aku bicara sama ibuku lalu setelah itu ambillah
nyawaku. Aku tahu semua dosa-dosaku terhadap ibuku mungkin tidak cukup waktu
sehari buat menyampaikan maafku bahkan belum tentu seumur hidupku cukup buat ku
menyampaikan permintaan maafku terhadap ibu. Tapi kali ini saja aku minta, satu
menit saja buat bicara sama ibuku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar